Musim Hujan, Omzet Pelaku Usaha di Pasar Tradisional Banyuwangi Turun Signifikan

Pasar Inpres Songgon, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi (foto: memontum)
Pasar Inpres Songgon, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi (foto: memontum)

Banyuwangi, blok-a.com – Hampir setiap pagi hari hujan mengguyur sejumlah wilayah di Banyuwangi. Dampaknya amat dirasakan oleh para pelaku usaha yang beraktivitas di pasar tradisional di seluruh Kabupaten Banyuwangi.

Bukan hanya pedagang sayuran dan kebutuhan lain, para relawan juru parkir (jukir) pun mengeluhkan kondisi ini. Salah satunya yang berhasil ditemui Blok-a.com di Pasar Tradisional Songgon, Jalan Ahmad Yani, Desa Songgon, Kecamatan Songgon.

“Akibat rutinitas hujan yang turun setiap pagi hari, membuat keuntungan menurun. Selain karena pembeli yang berkurang, sayuran menjadi mudah busuk,” ujar Mak Is kepada Blok-a.com, Sabtu (1/7/1023).

Mak Is sendiri merupakan salah satu pedagang sayuran di salah satu pasar tradisional Banyuwangi tersebut.

Menurut dia, semua jenis sayuran mudah busuk saat musim hujan. Terutama untuk jenis sayuran, seperti sawi hijau, bayam, sawi putih, kol, dan sayuran lain yang dikonsumsi bagian daunnya.

“Saat musim hujan berbagai jenis sayuran memang tidak tahan lama. Sehingga jika kita tidak segera menjualnya akan rugi. Karena akan busuk dan terbuang sia-sia,” keluhnya.

Hal senada disampaikan oleh salah satu relawan jukir, Halim (37), Ia menerangkan bahwa pendapatannya turun sampai 50 persen pada musim hujan kali ini.

“Saya bersama teman-teman yang tinggal di sekitar Pasar Songgon, yang setiap hari mengais rezeki menjadi relawan jukir, di hari normal rata-rata bisa mendapatkan Rp50 ribu per hari,” ungkap Halim.

Semenjak musim hujan ini pendapatannya menurun menjadi Rp25 ribu per hari.

“Tapi mau bagaimana lagi? Karena ini sudah menjadi risiko yang harus kami hadapi. Selain menjadi Jukir, kami juga mempunyai pekerjaan sambilan lain guna mencukupi kebutuhan keluarga,” pungkasnya. (kur)

Exit mobile version