Kisah Sukses Iwan Pinanggih dari Banyuwangi, Pembuat Suling Tradisional Jadi Eksportir Internasional

Iwan Pinanggih bersama suling tradisional buatannya. (dok. pribadi Iwan)
Iwan Pinanggih bersama suling tradisional buatannya. (dok. pribadi Iwan)

Banyuwangi, blok-a.com Iwan Pinanggih Saputra, seorang pria warga Dusun Sempu, Desa Sarimulyo, Cluring, Banyuwangi, memiliki perjalanan hidup yang penuh tantangan dan inspirasi.

Sebagai pemain suling yang berkeliling dari panggung ke panggung sejak 2005. Hidup Iwan Pinanggih berubah drastis ketika pandemi COVID-19 melanda pada tahun 2020.

Namun, dari situasi yang sulit, lahir sebuah peluang yang membawa Iwan menjadi eksportir suling ke India.

Musisi Panggung, Terpuruk Akibat Pandemi

Sejak tahun 2005, Iwan Pinanggih sudah aktif bermain suling di berbagai pentas. Musik telah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

“Sebenarnya, basic saya memang pemain suling, dan saya sangat mencintai alat musik ini,” ujar Iwan.

Namun pandemi COVID-19 melanda, banyak musisi, termasuk Iwan, mengalami masa sulit. Pentas dan acara dibatalkan, membuat mereka kehilangan sumber penghasilan utama.

Bagi Iwan, ini menjadi pukulan berat karena ia bergantung penuh pada panggung untuk menghidupi keluarganya.

“Pada tahun 2020, saat terjadi virus corona, kami para musisi tidak bisa mencari nafkah dari bermusik di pentas. Itu masa yang sangat sulit,” kenangnya.

Dalam keterpurukan, Iwan tidak menyerah begitu saja. Ia melihat media sosial sebagai peluang untuk tetap bertahan.

Iwan mulai aktif di Facebook, bergabung dengan grup “Suling Seluruh Indonesia,” dan berinteraksi dengan komunitas musisi lainnya. Dari sinilah ide untuk membuat suling dan menjualnya secara online mulai muncul.

Memulai Bisnis Suling

Pada awalnya, Iwan memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan membuat dan menjual suling melalui Facebook. Dia mulai memposting produk-produknya di grup suling dan beranda pribadinya.

“Pasar Indonesia untuk suling memang tergolong rendah, dan saya tahu itu dari awal,” ungkapnya.

Namun, usaha kerasnya mulai membuahkan hasil ketika ia berhasil menjual 2-3 suling per minggu ke berbagai wilayah di Indonesia.

Seperti kata pepatah, “Ibarat menusuk benda menggunakan gunting, sekali tusuk menghasilkan dua lobang.”

Usaha Iwan yang gigih di media sosial mulai menarik perhatian, tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga luar negeri.

Tanpa disangka, unggahannya mengenai suling menarik perhatian pengguna Facebook dari India.

Mengembangkan Pasar Sampai ke India

Iwan Pinanggih merasa heran dengan banyaknya permintaan pertemanan dari India. Ia tidak pernah menyangka itu adalah awal dari pertemuannya dengan pelanggan dari India.

Bahkan dirinya berfikir kalau permintaan pertemanan itu tidak mungkin ada hubunganya dengan bisnisnya.

“Apa gunanya menerima pertemanan dari India? Ini terlalu mustahil untuk berteman.” ucap Iwan.

Namun, segalanya berubah ketika seorang yang selama ini meminta pertemanan di akun Facebook-nya tersebut adalah produsen seruling terbesar di India.

“Dia bilang, ‘tolong terima add saya,” ungkap Iwan.

Percakapan itu menjadi titik awal pertemuan virtual yang mengubah hidupnya.

Ternyata, sang produsen India tersebut adalah seorang pengrajin suling besar di negaranya.

Ia tertarik dengan produk Iwan dan menawarkan pesanan besar: 50.000 suling, terdiri dari 70% bahan mentah dan 30% suling jadi.

“Saya seperti mimpi, tidak bisa membayangkan seberapa besar volume untuk 50.000 pcs, mengingat selama ini saya terbiasa melayani pasar Indonesia hanya kisaran 3 pcs per minggu,” ujar Iwan.

Dalam bisnis internasional, komunikasi menjadi hal yang sangat penting. Beruntung bagi Iwan, latar belakang pendidikannya sebagai lulusan SMA jurusan Bahasa membantunya berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan baik.

“Dari dulu, saya memang sangat suka sekali dengan bahasa Inggris,” jelasnya.

Kemampuan ini memudahkannya dalam bernegosiasi melalui video call untuk memastikan keseriusan calon pembelinya dari India.

Setelah beberapa kali berbicara, Iwan dengan jujur mengungkapkan kapasitasnya.

“Saya berkata pada dia, ‘Saya hanya pembuat suling kecil-kecilan. Namun, saya bisa memasok pesanan Anda sebanyak itu. Tetapi, saya tidak punya modal untuk mengerjakannya.’”

Mendengar hal itu, sang produsen India langsung menawarkan bantuan dengan mengirimkan uang muka sebesar 50% dari kesepakatan harga.

“Saya menangis, saya yang hampir tidak bisa makan karena dilarang pentas terkait corona, malah bisa mendapatkan rezeki dan kepercayaan dari orang yang bahkan belum pernah bertatap muka sama sekali,” kenangnya haru.

Skala Produksi Besar

Menerima pesanan sebesar 50.000 suling bukanlah hal yang mudah. Iwan yang sebelumnya mengerjakan segalanya sendiri kini harus berhadapan dengan kenyataan untuk memperluas skala produksi.

“Tantangan paling signifikan jelas tentang manajemen kerja. Saya yang selama ini terbiasa mengerjakan suling sendiri (karena hanya hitungan puluhan pcs) sekarang harus membayar pegawai,” ujarnya.

Tidak hanya itu, ia juga harus mempelajari cara mengelola sumber daya manusia dan peralatan dengan lebih efisien.

“Banyak kendala mengenai pengaturan kerja dan peralatan. Namun setelah kiriman pertama 50.000 pcs (1 container 20 feet), saya mulai mempelajari semua kelemahan sistem kerja dan peralatan,” tambah Iwan.

Berkat ketekunan dan keuletannya, Iwan berhasil merancang mesin pelurusan bambu yang digunakan hingga saat ini.

Pertumbuhan Bisnis Seruling Milik Iwan

Pengiriman pertama sebanyak 50.000 suling berjalan dengan sukses dan membuat sang pembeli dari India merasa puas dengan kualitas produk yang dikirim.

Akibatnya, ia memberikan order berkelanjutan dengan kuota yang sama, yaitu 50.000 suling setiap tiga bulan sekali. Dalam industri, keberhasilan ini merupakan sebuah pencapaian besar.

Masalah harga juga menjadi perhatian utama dalam bisnis ini.

“Di Indonesia, suling jadi kami jual seharga Rp100.000 per pcs, sementara untuk buyer India, kami menjual Rp50.000 per pcs (harga bersih, shipping ditanggung buyer),” jelas Iwan.

Perbedaan harga ini terjadi karena prinsip dasar dagang grosir, di mana harga per unit lebih rendah, namun jumlah pembelian jauh lebih besar.

Dalam setiap pengiriman kontainer, Iwan dapat meraup omzet antara Rp250 juta hingga Rp300 juta, tergantung pada jumlah dan jenis barang yang diisi dalam kontainer.

“Ini semua tentang memainkan jumlah barang. Semakin banyak kita kirim, semakin besar keuntungan yang bisa kita dapatkan,” kata Iwan.

Untuk memastikan kualitas, setiap proses produksi diawasi dengan ketat.

“Kami selalu memastikan satu per satu barang layak untuk diproduksi, hingga proses akhir kami menggunakan obat untuk menetralkan bambu dari hama bubuk,” jelasnya.

Dengan bantuan tujuh karyawan lima orang di gudang dan dua orang di lahan pengeringan, Iwan berhasil menjaga standar produksi tinggi sambil terus memenuhi permintaan pasar.

Kisah Iwan Pinanggih Saputra membuktikan bahwa dari desa kecil di Indonesia, seseorang bisa meraih sukses di pasar internasional dengan inovasi, ketekunan, dan kemampuan memanfaatkan peluang.

Pandemi mungkin telah mengubah jalan hidup banyak orang, tetapi bagi Iwan, itu adalah awal dari perjalanan menuju kesuksesan internasional.

Dari musisi panggung menjadi eksportir internasional, Iwan kini telah membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil jika kita mau berusaha dan tidak menyerah pada keadaan.

Dengan semangatnya yang pantang menyerah, Iwan kini tidak hanya menghidupi dirinya sendiri, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang di desanya.(mg3/gni)

Penulis: Zulkaria Irawan (Mahasiswa Magang Kampus STIMATA Malang)

Exit mobile version