Banyuwangi, Blok-a.com – Upaya Banyuwangi dalam mengelola potensi bahari berbasis komunitas mendapat apresiasi dari delegasi ASEAN – ID Blue. Para peserta forum internasional itu meninjau langsung Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Lateng dan kawasan Bangsring Underwater pekan lalu.
ASEAN-ID Blue merupakan forum yang mempertemukan negara-negara ASEAN, East Asia Summit (EAS), dan Pacific Islands Forum (PIF) untuk bertukar pengalaman dalam pengembangan ekonomi biru. Kegiatan ini berlangsung di Banyuwangi pada 16–19 Juli 2026.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Luar Negeri atas kepercayaan yang diberikan kepada Banyuwangi sebagai tuan rumah.
“Kami berterima kasih atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan Kemenlu pada Banyuwangi. Forum ini telah menjadi wadah strategis bagi Banyuwangi mendapatkan wawasan baru dan pengalaman yang berharga tentang pelaksanaan ekonomi biru dari berbagai negara,” kata Ipuk, pada Rabu (22/7/2026).
Selama di Banyuwangi, delegasi tidak hanya mengikuti dialog ekonomi biru. Mereka juga melakukan studi praktik terbaik dengan melihat pengelolaan hilirisasi perikanan di Koperasi Nelayan Merah Putih Lateng, serta mengikuti aktivitas “coral adoption” di Bangsring Underwater.
Staf Ahli Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri RI, Zelda Wulan Kartika, menilai Banyuwangi menjadi contoh nyata bagaimana komitmen ekonomi biru diterjemahkan menjadi dampak langsung bagi masyarakat.
“Babak baru ekonomi biru ASEAN akan semakin ditentukan oleh tempat-tempat seperti Banyuwangi. Di mana koperasi nelayan, UMKM, dan kelompok konservasi menerjemahkan komitmen besar antar negara menjadi perbaikan nyata dalam kehidupan masyarakat sehari-hari,” ujarnya.
Di Bangsring Underwater, delegasi mendengarkan kisah transformasi komunitas nelayan setempat. Dahulu perairan Desa Bangsring menjadi lokasi penangkapan ikan ilegal dengan bom dan potasium. Praktik tersebut merusak terumbu karang dan membuat hasil tangkap nelayan menurun.
Kesadaran untuk menyelamatkan laut mendorong Kelompok Nelayan Samudra Bhakti menghentikan alat tangkap destruktif dan mengedukasi warga. Pada 2012, mereka mendeklarasikan kawasan ini sebagai area konservasi.
“Kami melakukan edukasi perubahan mindset, mengajak nelayan untuk melakukan konservasi dan mendorong ekonomi warga lewat ekowisata,” papar Ketua Samudra Bhakti, Ikhwan Arief.
Kini Bangsring berkembang menjadi destinasi ekowisata edukatif. Pengunjung bisa memberi makan ikan dari rumah apung, snorkeling di antara terumbu karang hasil transplantasi, hingga melihat patung Penari Gandrung di bawah laut. Ikhwan menyebut pihaknya kini membina 51 kelompok nelayan dengan 2.000 anggota di seluruh Indonesia. Sebanyak 72 persen di antaranya telah mereplikasi model konservasi dan ekowisata Bangsring.
Delegasi juga mengikuti “Coral Adoption” dengan menanam terumbu karang untuk memperluas ekosistem di area konservasi.
Sementara itu, Director of Sectoral Development ASEAN Secretariat, Dr. Kanchana Wanichkorn, mengaku terkesan dengan peran komunitas lokal sebagai penggerak utama.
“Saya sangat ingin melihat praktik terbaik di Banyuwangi ini bisa diterapkan dalam skala besar. Sekretariat ASEAN akan mendukung dan membantu mempertemukan pihak-pihak yang tertarik, dan semoga kita dapat meningkatkan skala praktik-praktik hebat ini ke seluruh negara lainnya di ASEAN,” tegasnya.
Sebelumnya di KNMP Lateng, delegasi mempelajari bagaimana koperasi nelayan menggerakkan ekonomi warga. Hasil tangkapan nelayan tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi juga diolah menjadi produk kuliner bernilai tambah. Kawasan kampung nelayan dikembangkan menjadi area tematik hilirisasi berbasis pariwisata.
Dengan keterlibatan aktif nelayan dan komunitas pesisir, Banyuwangi menunjukkan bahwa ekonomi biru dapat berjalan seiring dengan konservasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Kur)
