Banyuwangi, Blok-a.com – Ratusan sopir angkutan logistik yang tergabung dalam Gerakan Aliansi Pengemudi Indonesia Bersatu (GAPIBER) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Banyuwangi, Rabu (14/10/2026).
Aksi ini dipicu oleh kemacetan panjang yang kerap terjadi di akses menuju Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, yang dinilai sangat mengganggu aktivitas operasional para sopir.
Massa datang dengan membawa puluhan truk jenis engkel dan memarkirnya di sepanjang Jalan Ahmad Yani, sehingga menutup akses keluar-masuk komplek perkantoran Pemkab Banyuwangi.
Koordinator Lapangan aksi, Muklisin, mengatakan pihaknya telah melayangkan surat kepada Bupati Banyuwangi sekitar satu minggu sebelum aksi digelar. Surat tersebut berisi keluhan dan tuntutan terkait pelayanan serta kondisi operasional penyeberangan ASDP.
Salah satu tuntutan utama massa adalah pergantian seluruh jajaran direksi ASDP Ketapang, mulai dari General Manager (GM) hingga struktur di bawahnya. Selain itu, mereka mendesak percepatan pembangunan dan perbaikan dermaga guna mengantisipasi lonjakan kepadatan menjelang libur pergantian tahun.
“Termasuk terkait percepatan dermaga, karena ini sudah hampir tahun baru ya. Mungkin ini tambah macet lagi. Yang jelas harus dipercepat perbaikannya, itu yang diminta oleh teman-teman,” kata Muklisin.
Aksi yang berlangsung mulai pukul 12.00 WIB hingga 15.00 WIB tersebut sempat membuat aktivitas di lingkungan Pemkab Banyuwangi lumpuh. Akses keluar-masuk kantor tertutup total, sehingga pegawai, masyarakat, hingga mahasiswa magang yang beraktivitas di dalam kantor tidak bisa keluar.
Salah satu yang terdampak adalah Fikri, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi yang sedang magang di Pemkab Banyuwangi. Ia mengaku tertahan dan tidak bisa keluar dengan sepeda motornya padahal harus mengikuti perkuliahan sore.
“Saya jam tiga sore ini ada kelas di kampus. Ini tidak bisa keluar malah motor didorong masuk katanya supaya suruh merasakan kemacetan,” ujar Fikri.
Ia menyayangkan aksi penutupan jalan yang dinilai merugikan masyarakat umum yang tidak berkaitan dengan tuntutan para sopir.
“Ya saya sangat dirugikan. Saya bukan pejabat, bukan pegawai sini, cuma magang tapi tidak bisa keluar,” keluhnya.
Setelah melakukan orasi selama tiga jam, massa akhirnya membuka kembali akses Kantor Pemkab Banyuwangi dan membubarkan diri dengan tertib. (Kur).
