Banyuwangi, blok-a.com – Bandar Udara Internasional Banyuwangi, yang terletak di Desa Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, kini dikenal sebagai bandara hijau pertama di Indonesia.
Namun, pencapaian ini tidaklah mudah. Perjalanan panjang pembangunan bandara ini penuh dengan tantangan, mulai dari kendala topografi hingga kasus korupsi yang sempat menghantui proyek ini.
Awal Rencana Pembangunan
Gagasan membangun bandara di Banyuwangi muncul pada 1970-an di bawah Bupati Purnomo Sidik. Saat itu, lokasi yang dipilih adalah Kecamatan Glenmore, menggunakan bekas landasan pacu pesawat penyemprot hama.
Namun, pembangunan terhenti ketika Purnomo lengser akibat peristiwa Pembantaian Banyuwangi 1998.
Di bawah Bupati Samsul Hadi, proyek dilanjutkan. Tetapi, lokasi di Glenmore terbukti tidak layak karena topografinya bergunung-gunung.
Oleh karena itu, pemerintah memindahkan proyek ke Desa Blimbingsari sesuai keputusan Menteri Perhubungan tahun 2003.
Kendala Pembebasan Lahan dan Kasus Korupsi
Pembebasan lahan menjadi hambatan besar. Sayangnya, dua kasus korupsi melibatkan Bupati Samsul Hadi dan Ratna Ani Lestari karena penggelembungan harga tanah, merugikan negara Rp 40,99 miliar. Meskipun demikian, proyek tetap berjalan dengan pendanaan APBN.
Pada 29 Desember 2008, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengunjungi lokasi dan menyatakan optimisme. Akhirnya, setelah uji kelayakan, bandara resmi dibuka untuk penerbangan komersial pada 29 Desember 2010 oleh Sky Aviation.
Perkembangan Menuju Bandara Internasional
Bandara Banyuwangi terus berkembang seiring waktu. Pada awalnya, landasan pacu bandara hanya sepanjang 900 meter, namun seiring dengan kebutuhan penerbangan komersial, panjang landasan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 2.250 meter pada tahun 2015.
Ini memungkinkan bandara untuk melayani pesawat yang lebih besar dan penerbangan jarak jauh.
Pada tahun 2017, bandara ini resmi berganti nama menjadi Bandara Internasional Banyuwangi dan mulai dikelola oleh Angkasa Pura II.
Kemudian, pada Desember 2018, bandara ini membuka rute internasional pertama, yakni Banyuwangi-Kuala Lumpur, menandai tonggak penting dalam sejarahnya.
Bandara Hijau Pertama di Indonesia

Salah satu ciri khas Bandara Banyuwangi adalah konsepnya yang ramah lingkungan. Terminal baru yang dibangun dengan dana APBD pada tahun 2017 mengusung desain hijau dengan penghawaan alami, atap yang ditanami tumbuhan, konservasi air, dan pencahayaan alami melalui sunroof.
Terminal ini juga mengadopsi bentuk ikat kepala khas Suku Osing, mencerminkan kearifan lokal Banyuwangi.
Bandara ini tidak hanya melayani penerbangan komersial, tetapi juga menjadi pusat pendidikan penerbangan, dengan sekolah-sekolah seperti Bali International Flight Academy (BIFA) dan Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi (BP3B) yang beroperasi di sini.
Perjalanan pembangunan Bandara Internasional Banyuwangi tidaklah mudah. Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, dari kendala teknis hingga masalah hukum, bandara ini kini berdiri kokoh sebagai salah satu bandara paling inovatif di Indonesia.
Dengan konsep ramah lingkungan dan pelayanan penerbangan domestik serta internasional, Bandara Internasional Banyuwangi menjadi simbol kemajuan Banyuwangi sebagai destinasi wisata dan pusat penerbangan yang terus berkembang.(mg3/)
Penulis: Zulkaria Irawan (Mahasiswa Magang Kampus STIMATA Malang)
