Sepekan Diblokir, Portal Terminal Elpiji PT MMP Bosowa Bulusan Akhirnya Dibuka

Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rofiq Ripto Himawan saat memberikan klarifikasi kepada para pendemo yang memblokade jalan menuju Terminal Elpiji PT MMP Bosowa, Selasa (01/09/2026)(foto: Istimewa)
Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rofiq Ripto Himawan saat memberikan klarifikasi kepada para pendemo yang memblokade jalan menuju Terminal Elpiji PT MMP Bosowa, Selasa (01/09/2026)(foto: Istimewa)

Banyuwangi, blok-a.com – Akses keluar Terminal Elpiji PT Misi Mulia Petrogas MMP Bosowa di Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, akhirnya dibuka pada Selasa sore (01/09/2026). Pembukaan ini mengakhiri pemblokiran selama tujuh hari akibat aksi sengketa lahan.

Dibukanya portal beton tersebut menjadi titik balik bagi distribusi elpiji 3 kg bersubsidi untuk wilayah Banyuwangi dan Situbondo. Selama sepekan, aktivitas truk tangki terhenti sehingga pasokan ke sejumlah Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji SPBE ikut terganggu.

Akibatnya, masyarakat di beberapa wilayah sempat merasakan kelangkaan gas melon.

Proses pembukaan akses dilakukan di bawah pengamanan ketat Polresta Banyuwangi dan personel Marinir. Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan memimpin langsung di lapangan, didampingi pejabat utama dan para kapolsek. Petugas juga mengerahkan alat berat untuk memindahkan portal beton yang melintang di pintu keluar terminal.

Pembukaan ini dilakukan setelah polisi melakukan negosiasi dengan massa aksi. Aparat meminta blokir dibuka terlebih dahulu agar truk pengangkut elpiji bisa beroperasi kembali.

“Saya akan fasilitasi mediasi dengan pihak perusahaan. Silakan bertemu. Tapi untuk sekarang, saya minta blokir ini dibuka dulu supaya tangki bisa mengisi,” kata Kombes Rofiq di hadapan para demonstran.

Kapolresta menegaskan, terbukanya akses tidak serta merta menyelesaikan persoalan. Mediasi antara warga dan perusahaan akan tetap dilanjutkan untuk mencari solusi atas konflik lahan yang sudah berlangsung sejak 2014.

Warga mengklaim lahan seluas lebih dari 2 hektare yang digunakan terminal merupakan milik mereka. Mereka mengaku belum pernah menerima ganti rugi dan masih memegang sertifikat atas nama Rahmat dan Dul Hadi.

Dialog sudah beberapa kali digelar sejak 2015, termasuk pertemuan terakhir dengan kuasa hukum PT MMP Bosowa pada Selasa sore, namun belum menemui kesepakatan.

“Yang saya minta hanya hak saya sendiri. Sudah 11 tahun saya berjuang. Tolong jangan abaikan kami, rakyat kecil,” ujar Rahmat, salah satu warga yang ikut dalam aksi.

Meski truk tangki kini sudah bisa keluar-masuk, sejumlah warga masih bertahan di sekitar pintu terminal untuk mengawal tuntutan mereka. Bagi warga, pembukaan blokir hanya untuk menyelamatkan distribusi gas yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Dengan kembali normalnya arus kendaraan, distribusi elpiji diharapkan segera pulih. Sementara itu, penyelesaian sengketa lahan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan melalui dialog dan jalur hukum agar gangguan serupa tidak terulang. (kur)

Exit mobile version