Banyuwangi, blok-a.com – Sugimin (46) warga Desa Sraten, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, menceritakan awal mula istrinya, berinisial I (39) yang merupakan seorang pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia menjadi korban penyiksaan.
Menurut pengakuan Sugimin, istrinya berangkat ke Malaysia karena tuntutan ekonomi.
“Saya bilang sabar dulu, rejeki sudah ada yang ngatur. Kita pelan-pelan bangun ekonomi keluarga. Tapi waktu itu istri saya tetap ingin berangkat. Akhirnya saya beri ijin yang penting hati-hati,” ungkap Sugimin, Rabu (3/5/2023).
Sugimin mengatakan, istrinya mendapatkan informasi kerja di Negeri Jiran dari seorang petugas Desa.
“Istri saya tergiur berangkat ke luar negeri atas iming-iming seorang petugas lapangan (PL) asal Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring,” tambahnya.
Baca Juga: Ingin Perbaiki Nasib Kerja di Malaysia, Warga Banyuwangi Malah Jadi Korban Kekerasan
Awalnya, istri Sugimin ditawari bekerja di Singapura. Namun entah mengapa ia tiba-tiba diarahkan bekerja ke Malaysia.
Sekitar bulan Desember tahun 2021, istri Sugimin mengurus sejumlah syarat dokumen untuk keberangkatannya ke luar negeri.
“Setelah pamit dengan seluruh anggota keluarga sekitar bulan Februari 2022 istri saya berangkat. Waktu itu dua anak saya masih berusia 16 dan 6 tahun,” cerita Sugimin.
Sang istri berangkat ke Malaysia melalui jalur darat. Dia sempat transit di Kota Malang hingga akhirnya berhenti di Kota Batam. Dari Batam melanjutkan perjalanan via jalur laut ke Singapura dan berakhir di Malaysia.
“Saat itu setelah sampai di Malaysia saya sempat dihubungi oleh seorang agen bernama Jack Lo bahwa istri saya telah bekerja. Dia dibayar 1 300 Ringgit Malaysia. Kalau dikurskan rupiah di sini sekitar Rp 4,2 juta,” papar Sugimin.
Beberapa saat setelah diterima kerja di Malaysia, kondisi sang istri masih baik-baik saja. Tidak ada hal yang aneh maupun janggal. Hanya saja dia tidak boleh memegang handphone selama bekerja.
“Selama beberapa bulan saya sudah lost contact dengan sang istri. Dan baru beberapa hari terakhir saya mendapat kabar dari KBRI Malaysia bahwa istri saya mendapat penyiksaan dari majikanya,” keluhnya.
“Dari kabar yang saya terima, istri saya mengalami luka bakar di punggung dan lengan akibat disetrika, lalu ada bekas disiram air panas. Bagian matanya hitam lebam akibat dipukul majikan di Malaysia,” ucap Sugimin.
Karena bingung, akhirnya Sugimin memberanikan diri menghubungi Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Banyuwangi yang kebetulan kantornya tak jauh dari rumahnya.
Di lain tempat, Ketua SBMI Agung Sebastian mengatakan bahwa pihaknya kini tengah berusaha mengurus kepulangan korban.
“Setelah kita cek, kita langsung koordinasi dengan Pemdes, BP2MI, Pemkab Banyuwangi, maupun jaringan kita yang ada di Malaysia,” tegasnya
“Terkait kepulangan korban, SBMI masih menunggu arahan dari Kementerian Luar Negeri RI melalui KBRI maupun KJRI di Malaysia, selaku pihak yang mengurus korban,” imbuhnya. (kur/lio)






Media Sosial