Bawa Jaranan Buto, Jurnalis Banyuwangi Gelar Demo Tolak RUU Penyiaran

Jurnalis Banyuwangi gelar aksi demo tolak RUU Penyiaran di depan Kantor DPRD Banyuwangi, Senin (20/5/2025).(blok-a.com/Kuryanto)
Jurnalis Banyuwangi gelar aksi demo tolak RUU Penyiaran di depan Kantor DPRD Banyuwangi, Senin (20/5/2025).(blok-a.com/Kuryanto)

Banyuwangi, blok-a.com – Ratusan jurnalis dari berbagai media di Banyuwangi menggelar aksi demo penolakan Revisi Undang-Undang (RUU) Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran di depan Kantor DPRD setempat, Senin (20/5/2024).

Berbeda dengan daerah lain, selain menolak adanya indikasi pembungkaman kemerdekaan pers, jurnalis Banyuwangi turut menolak Pasal Revisi RUU Penyiaran yang melarang siaran bernuansa mistis dan pengobatan supranatural.

Kedua larangan tersebut tercantum pada Pasal 50 B ayat 2 huruf (f) dan (h) Revisi RUU Penyiaran.

Dalam penyampaian aspirasinya, juga diwarnai penampilan seni Jaranan Buto, lengkap dengan seorang gambuh atau pawang lelembut.

Hal itu sebagai wujud penggambaran unsur mistis yang melekat erat dalam seni produk budaya Banyuwangi.

“Menurut kami, larangan siaran bernuansa mistis dan pengobatan supranatural, bertentangan dengan semangat pelestarian budaya Banyuwangi, dan budaya Nusantara,” kata Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Banyuwangi, Syamsul Arifin yang akrab dipanggil Bono.

Bono mengatakan, produk budaya Banyuwangi, lanjutnya, seperti Jaranan Buto, Seblang, Keboan dan lainnya, rata-rata mengandung unsur mistis.

Seluruhnya, harus terus digaungkan termasuk melalui media penyiaran agar tetap lestari.

“Termasuk pengobatan supratanural, selain menjadi salah satu bagian dari budaya di Banyuwangi, juga menjadi budaya Nusantara. Perlu dicatat, pengobatan supranatural yang diwariskan leluhur, sudah ada sebelum Nusantara mengenal pengobatan medis,” tandasnya.

“Perlu digarisbawahi pula, budaya merupakan karakter dan identitas bangsa. Jika hal-hal terkait budaya, seperti unsur mistis dan pengobatan supranatural dilarang disiarkan, bisa berimbas hilangnya karakter bangsa. Itu sangat berbahaya,” imbuh Bono.

Selama aksi demo, orasi selain dilakukan oleh IJTI Banyuwangi, juga dari perwakilan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banyuwangi, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banyuwangi, yang diikuti oleh yel-yel penolakan dari sejumlah komunitas jurnalis seperti dari Jurnalis Banyuwangi Selatan (JBS) dan Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT) Banyuwangi.

“Tolak Revisi RUU Penyiaran, Lawan upaya pembungkaman kemerdekaan Pers,” suara lantang dari para jurnalis.

Seperti gelombang demo tolak Revisi RUU Penyiaran yang dilakukan awak media di seluruh Indonesia, demo di Banyuwangi juga turut menyuarakan penolakan terhadap larangan penyiaran liputan investigasi.

Lalu, larangan penayangan isi siaran dan konten siaran yang mengandung berita bohong, fitnah, penghinaan dan pencemaran nama baik.

Serta menolak Pasal 8 A huruf (q) dan Pasal 42 ayat 2 yang menyebutkan bahwa penyelesaian sengketa terkait kegiatan jurnalistik penyiaran dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

“Penyelesaian sengketa jurnalistik penyiaran di KPI berpotensi mengintervensi kerja-kerja jurnalistik yang profesional. Mengingat KPI merupakan lembaga yang dibentuk melalui keputusan politik di DPR,” tegas ketua PWI Banyuwangi, Budi.

Selesai berorasi, massa Aliansi Jurnalis Banyuwangi, menyerahkan surat dan penggalangan tanda tangan sikap menolak RUU Penyiaran kepada perwakilan DPRD Banyuwangi. Selanjutnya, dewan diminta meneruskan surat ke DPR RI.

“Aspirasi akan kami sampaikan kepada pimpinan DPRD Banyuwangi, untuk ditindaklanjuti,” ucap Kabag Umum DPRD Banyuwangi, Sulistyowati.

Dalam aksi tolak Revisi RUU Penyiaran, ratusan wartawan Banyuwangi kompak mengenakan busana hitam dengan memakai udeng tradisional.

Pakaian hitam diartikan sebagai wujud berkabung atas adanya upaya pembungkaman Kemerdekaan Pers.

Sedang pemakaian udeng tradisional dan pagelaran seni Jaranan Buto, merupakan bentuk perlawan terhadap pasal yang melarang penayangan siaran mengandung unsur mistis dan pengobatan supranatural, yang berpotensi menghilangkan budaya Banyuwangi. (kur/lio)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?