Sejarah Julukan “Kota Santet” Banyuwangi, Tragedi Kelam dan Aura Mistis

FotoDok. Asli Indonesia
FotoDok. Asli Indonesia

Banyuwangi, blok-a.com – Banyuwangi, sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Jawa, dikenal tidak hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga memiliki sisi gelap yang penuh misteri dan sejarah kelam. Salah satu sebutan yang melekat pada Banyuwangi adalah “Kota Santet.” Julukan ini tidak lahir begitu saja, melainkan berakar dari peristiwa kelam yang terjadi pada tahun 1998, yang membawa dampak besar pada citra kabupaten ini.

Asal Usul Sebutan “Kota Santet”

Ilustrasi santet (Ft.pinterest)

Pada periode Februari hingga September 1998, Banyuwangi mengalami tragedi pembantaian yang mengguncang masyarakatnya. Sekitar 1.000 orang tewas dalam insiden ini, kebanyakan dari mereka adalah pemuka agama, kyai, tokoh masyarakat, dan guru ngaji. 

Pembunuhan-pembunuhan tersebut dianggap berkaitan dengan praktik ilmu hitam atau dukun santet. Tragedi ini membuat masyarakat luas mulai menyebut Banyuwangi sebagai “Kota Santet.”

Peristiwa kelam ini melibatkan serangkaian pembunuhan terhadap individu-individu yang diduga melakukan praktik ilmu hitam. Sebagian besar korban adalah tokoh masyarakat yang dikenal, dan kematian mereka menimbulkan kengerian serta rasa takut di antara warga. 

Misteri Sosok Ninja dan Orang Gila

Ilustrasi sosok Ninja banyuwangi

Sebutan “ninja” mulai muncul untuk menggambarkan para pelaku pembunuhan ini. Sosok misterius yang digambarkan mengenakan pakaian hitam, menggunakan senjata, dan memiliki kemampuan luar biasa, seperti melompat jauh, menghilang, atau bahkan terbang.

Saat pembantaian terjadi, sering kali seluruh lampu di wilayah tersebut mendadak mati, diikuti dengan kematian orang-orang dalam kondisi mengenaskan. 

Di tengah tragedi ini, Banyuwangi juga dipenuhi oleh orang gila atau gelandangan, yang terlihat berbeda dari orang gila pada umumnya. 

Mereka bisa berbicara normal dan menjawab pertanyaan dengan baik, tetapi akan mengamuk saat ditanya tentang identitas diri mereka. Fenomena ini memicu spekulasi di kalangan masyarakat bahwa mereka mungkin terlibat dalam tragedi tersebut. 

Menariknya, orang-orang ini menghilang bersamaan dengan berakhirnya periode pembantaian.

Versi Lain yang Kontroversial

Meskipun banyak yang mengaitkan tragedi Banyuwangi dengan praktik ilmu hitam atau santet, ada indikasi kuat bahwa motif politik mungkin berperan dalam peristiwa tersebut. 

Beberapa pihak menduga bahwa insiden pembantaian ini merupakan bagian dari upaya politisasi yang memanfaatkan ketakutan masyarakat terhadap ilmu hitam untuk mencapai tujuan tertentu. 

Santet dijadikan alat untuk menciptakan teror dan mengendalikan opini publik. Namun, hingga kini, siapa dalang di balik tragedi tersebut belum terungkap secara jelas.

Di sisi lain, pandangan yang berbeda datang dari budayawan lokal seperti Hasnan Singodimayan. Ia menyatakan bahwa ilmu santet di Banyuwangi bukan untuk membunuh, melainkan bagian dari tradisi lisan dan budaya lokal. 

Menurut Hasnan, santet digunakan untuk tujuan-tujuan lain seperti pengasihan atau menarik simpati, yang lebih mencerminkan sisi positif dari praktik tersebut. 

Ini menambah kompleksitas narasi tentang santet di Banyuwangi, yang selama ini sering dihubungkan dengan kekerasan.

Sejarah kelam yang menyelimuti Banyuwangi masih menyisakan banyak misteri. Meskipun peristiwa ini meninggalkan luka mendalam dan identitas kota yang dikenal sebagai “Kota Santet,” kisah ini juga membawa pelajaran penting. 

Sejarah ini harus diingat, dipelajari, dan diambil hikmahnya agar tidak disalahgunakan kembali untuk kepentingan tertentu di masa depan. (mg3/)

Penulis: Zulkaria Irawan (Mahasiswa Magang Kampus STIMATA Malang)