Banyuwangi, Blok-a.com – Rinitis alergi (RA) menjadi salah satu penyakit alergi yang semakin banyak dialami masyarakat, khususnya anak-anak. Penyakit ini ditandai gejala bersin berulang, hidung tersumbat, hidung gatal, serta keluarnya ingus encer dan jernih. Dalam beberapa kasus, penderita juga mengalami mata merah, gatal, dan berair.
Dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan Bedah Kepala Leher, RSUD Genteng, dr. Idama Asido Rohana Simanjuntak, Sp.T.H.T.B.K.L. menjelaskan. Selama ini rinitis alergi dianggap hanya menyerang saluran pernapasan bagian hidung.
Namun, perkembangan ilmu kedokteran menunjukkan bahwa penyakit ini merupakan bagian dari respons alergi sistemik yang berkaitan erat dengan penyakit atopik lain seperti asma dan dermatitis atopik.
Penyebab Rinitis Alergi
Menurut dr. Idama, rinitis alergi terjadi akibat reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh terhadap zat pemicu alergi atau alergen, seperti debu, tungau, serbuk sari, hingga bulu hewan. Reaksi alergi tersebut berlangsung dalam dua tahap, yakni fase awal dan fase lanjut.
“Pada fase awal, gejala biasanya muncul dalam waktu 5 hingga 15 menit setelah penderita terpapar alergen. Tubuh melepaskan histamin yang memicu bersin, rasa gatal, dan produksi lendir berlebih,” ungkapnya, Senin (11/5/2026).
Selain histamin, sambung dr Idama, zat lain seperti leukotrien dan prostaglandin juga menyebabkan pembuluh darah di hidung melebar sehingga timbul hidung tersumbat. Beberapa jam kemudian, tubuh memasuki fase lanjut dengan melepaskan zat peradangan lain yang menarik sel-sel radang ke jaringan hidung. Ini kemudian dapat mengakibatkan lapisan hidung membengkak dan sumbatan menjadi lebih berat.
Pada sebagian penderita, hidung menjadi sangat sensitif akibat penumpukan sel eosinofil dan kerusakan lapisan mukosa hidung. Akibatnya, paparan ringan seperti asap rokok atau udara dingin dapat langsung memicu bersin dan hidung berair.
Faktor keturunan juga berperan dalam munculnya rinitis alergi. Penelitian menunjukkan kemungkinan anak kembar identik sama-sama mengalami rinitis alergi mencapai 45 hingga 60 persen, sedangkan pada kembar tidak identik sekitar 25 persen.
Gejala Rinitis Alergi
Data epidemiologi menunjukkan angka kejadian rinitis alergi terus meningkat setiap tahun, terutama pada anak-anak. Berdasarkan International Study for Asthma and Allergies in Childhood, sebanyak 14,6 persen anak usia 13–14 tahun dan 8,5 persen anak usia 6–7 tahun mengalami gejala rinitis konjungtivitis yang berkaitan dengan rinitis alergi.
Di Indonesia belum terdapat data pasti mengenai prevalensi penyakit ini. Meski demikian, rinitis alergi diperkirakan menjadi penyakit alergi paling banyak dialami anak-anak di kota besar, disusul dermatitis atopik dan asma. Debu tungau disebut sebagai alergen utama penyebab rinitis alergi di Indonesia.
Gejala khas rinitis alergi antara lain bersin berulang lebih dari lima kali berturut-turut, hidung gatal, hidung tersumbat, dan keluarnya cairan bening dari hidung. Pada kondisi tertentu, penderita juga dapat mengalami mengi atau sesak napas, terutama bila memiliki riwayat asma.
dr. Idama menjelaskan salah satu tanda fisik yang sering dijumpai adalah allergic shiners. Ini adalah bayangan hitam di bawah mata akibat gangguan aliran pembuluh darah di sekitar hidung dan mata karena proses alergi yang berlangsung lama.
“Tanda lain yang cukup khas adalah adanya garis horizontal pada hidung atau “nasal creasing”. Kondisi ini muncul akibat kebiasaan penderita sering mengusap atau menggosok hidung ke arah atas yang dikenal sebagai allergic salute,” jelasnya.
Pada beberapa penderita juga dapat ditemukan permukaan lidah menyerupai peta atau tongue. Serta, lipatan halus tambahan di kelopak mata bagian bawah yang disebut Dennie-Morgan line. Sumbatan hidung kronis membuat sebagian penderita terbiasa bernapas melalui mulut.
Apabila berlangsung lama, terutama pada anak-anak, kondisi tersebut dapat menyebabkan gambaran wajah khas yang dikenal sebagai allergic facies, yakni wajah tampak memanjang, mulut sering terbuka, dan terdapat lingkar hitam di bawah mata.
Jenis Rinitis Alergi
Berdasarkan waktu munculnya gejala, rinitis alergi dibagi menjadi dua jenis, yakni intermiten dan persisten. Rinitis alergi intermiten terjadi bila gejala muncul kurang dari empat hari dalam seminggu atau kurang dari empat minggu berturut-turut. Sementara rinitis alergi persisten ditandai gejala yang muncul lebih dari empat hari per minggu selama lebih dari empat minggu.
Dari segi keparahan, rinitis alergi dibedakan menjadi ringan dan sedang-berat. Pada kondisi sedang-berat, penderita dapat mengalami gangguan tidur, penurunan aktivitas, gangguan belajar maupun bekerja, serta penurunan kualitas hidup.
“Penanganan utama rinitis alergi adalah menghindari paparan alergen. Untuk mengetahui penyebab alergi secara spesifik, pasien dapat menjalani pemeriksaan tes alergi seperti skin prick test atau pemeriksaan IgE spesifik,” terang dr. Idama.
Selain itu, pengobatan juga dapat diberikan sesuai hasil pemeriksaan dokter. Diantaranya mencuci hidung dengan larutan saline dan penggunaan kortikosteroid intranasal. Penanganan yang tepat diharapkan tidak hanya mengurangi gejala, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup penderita. (kur/ova)






Media Sosial