Asal Usul Suku Osing Banyuwangi, Ini Sejarahnya!!

Banyuwangi, blok-a.com – Suku Osing adalah kelompok etnis yang mendiami Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dengan sejarah dan budaya yang sangat kaya. Mereka adalah keturunan dari Kerajaan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa, yang runtuh pada abad ke-18. 

Budaya Suku Osing mencerminkan kearifan lokal yang berharga dan terjaga melalui tradisi, bahasa, seni, dan kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sejarah Suku Osing

Asal usul berawal dari runtuhnya Kerajaan Majapahit. Ketika kerajaan besar ini mulai hancur, sebagian besar penduduknya melarikan diri ke beberapa daerah, salah satunya ke wilayah Blambangan. Di sana, terbentuk Kerajaan Blambangan yang akhirnya menjadi cikal bakal Suku Osing.

Blambangan adalah kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa sebelum jatuh ke tangan Mataram Islam. Suku Osing adalah keturunan dari kerajaan ini dan tetap mempertahankan budaya dan tradisi mereka hingga saat ini. 

Suku  Osing mendiami berbagai wilayah di pesisir dan pedalaman Banyuwangi, di mana sebagian besar dari mereka bekerja sebagai petani, nelayan, atau pengrajin. 

Mereka tersebar di beberapa kecamatan di bagian tengah dan timur kabupaten ini, dengan populasi terbesar berada di Kecamatan Songgon, Rogojampi, Blimbingsari, Singojuruh, Kabat, Licin, Giri, dan Glagah. 

Sebagian komunitas Osing juga dapat ditemukan di Kecamatan Banyuwangi, Kalipuro, dan Sempu, di mana mereka hidup berdampingan dengan suku-suku lain seperti Madura dan Bali. 

Selain itu, kelompok kecil masyarakat Osing juga menetap di Kecamatan Srono, Cluring, Gambiran, dan Genteng.

Budaya dan Tradisi Suku Osing

Tradisi masyarakat Banyuwangi (Foto: Humas Pemkab Banyuwangi)

Suku Osing memiliki nilai budaya yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai ini mencakup gotong royong, menjaga keharmonisan dengan alam, serta saling menghormati dan berkehidupan harmonis. 

Tradisi-tradisi ini dipertahankan meskipun kepercayaan mereka berbeda-beda—mayoritas memeluk Islam, tetapi ada juga yang beragama Hindu.

Beberapa tradisi Suku Osing yang masih eksis hingga kini adalah:

  1. Tumpeng Sewu, Adalah ritual adat Suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi, yang digelar seminggu sebelum Idul Adha. Tradisi ini merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai bentuk selamatan tolak bala dan ungkapan rasa cinta pada alam.
  1. Tradisi Mepe Kasur, Yaitu kegiatan menjemur kasur yang dilakukan oleh Suku Osing di bulan Dzulhijah, bersamaan dengan selamatan desa. Tradisi ini dipercaya dapat menjaga kerukunan dan semangat bekerja dalam rumah tangga. Pada hari perayaan, seluruh masyarakat desa menjemur kasur mereka secara bersamaan. Kasur yang digunakan berwarna merah dan hitam, melambangkan penolakan bala dan kelanggengan keluarga.
  1. Bahasa Osing, Bahasa ini merupakan perkembangan dari Bahasa Jawa Kuno yang digunakan pada masa Majapahit. Dialek ini memiliki beberapa kata yang berbeda dengan Bahasa Jawa modern. Bahasa Osing masih digunakan, terutama di Desa Kemiren, sebagai upaya untuk melestarikan budaya mereka. Contoh bahasa Osing, yaitu: Sijai, artinya satu, Byajul, artinya buaya, Kabyeh, artinya semua.
  1. Angklung Paglak, Adalah alat musik tradisional khas Banyuwangi yang terbuat dari bambu, dimainkan oleh masyarakat Osing dalam berbagai kegiatan. Kesenian ini memiliki beberapa fungsi: menghibur petani saat panen, sebagai panggilan untuk berkumpul dan bergotong royong di sawah, serta menjaga padi dari hama burung. Permainan ini menekankan nilai gotong royong dan dimainkan oleh dua pemain angklung dan dua pemain gendang, yang bergantian menyanyikan lagu dalam bahasa Osing.

Rumah Adat dan Kesenian

(Facebook: Rumah Adat Osing – Tikel Balung)

Rumah adat Suku Osing memiliki desain khas dengan atap berpola balung (empat sisi) atau crocogan (dua sisi). Bagian depan rumah dihiasi ukiran kayu yang menunjukkan keindahan dan kearifan tata ruang mereka. Dalam hal kesenian, Suku ini sangat terampil dalam membuat batik dan tenun.

Pelestarian Warisan Budaya

Pelestarian budaya dilakukan melalui pendidikan dan komunitas adat. Contohnya adalah Sekolah Adat Osing, atau Pesinauan, yang mengajarkan tari, musik, menganyam, dan silat. 

Selain itu, di Desa Tamansuruh ada inisiatif seperti Umah Suket Ilalang yang mengajari anak-anak membuat kerajinan tangan dari ilalang.

Masyarakat adat Osing aktif melestarikan tradisi mereka dengan dukungan pemerintah dan komunitas lokal. Festival budaya dan pertunjukan tradisional diadakan untuk memperkenalkan budaya Osing kepada wisatawan. 

Dengan segala upaya pelestarian ini, Suku Osing tidak hanya menjaga warisan mereka tetapi juga menginspirasi masyarakat lainnya dalam melestarikan budaya tradisional di tengah derasnya arus modernisasi.(mg3/)

Penulis: Zulkaria Irawan (Mahasiswa Magang Kampus STIMATA Malang)