Antisipasi Macet Ketapang-Gilimanuk Jelang Nataru, Pemerintah Siapkan Jalur Penyeberangan Alternatif

Kepadatan kendaraan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi saat Nataru 2025-2026. (Foto: dok Dishub Banyuwangi).
Kepadatan kendaraan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi saat Nataru 2025-2026. (Foto: dok Dishub Banyuwangi).

Banyuwangi, blok-a.com – Antisipasi terjadinya lonjakan kendaraan saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026-2027, pemerintah menyiapkan tiga pelabuhan alternatif. Upaya ini dilakukan agar arus kendaraan tidak seluruhnya menumpuk di lintasan utama Ketapang-Gilimanuk.

Pembahasan skema tersebut dilakukan dalam rapat koordinasi yang dipimpin Asisten Deputi Konektivitas Maritim dan Udara Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan bersama Kepala KSOP Kelas III Tanjungwangi, Rabu (04/11/2026).

Rapat dihadiri perwakilan Kementerian Perhubungan pusat hingga Balai, Kementerian Pekerjaan Umum, Pemprov Jatim dan Bali, pemerintah kabupaten, PT Pelindo, hingga PT ASDP Indonesia Ferry.

Kepala Dinas Perhubungan Banyuwangi, I Komang Sudira Atmaja, menyebut rapat tersebut fokus membahas alternatif layanan pelabuhan selama Nataru.

“Rapat ini membahas alternatif layanan pelabuhan di masa Natal dan Tahun Baru,” kata Komang usai rapat.

Hasil survei menetapkan tiga pelabuhan yang disiagakan, yaitu Pelabuhan Jangkar di Situbondo dan Pelabuhan Tanjungwangi di Banyuwangi untuk sisi Jawa, serta Pelabuhan Celukan Bawang di Buleleng, Bali, untuk sisi Bali.

“Jadi pelabuhan di sisi Jawa disiapkan Pelabuhan Jangkar dan Pelabuhan Tanjungwangi. Sementara di sisi Bali disiapkan Pelabuhan Celukan Bawang, yang masing-masing diproyeksikan mengangkut hingga 500 kendaraan,” jelasnya.

Untuk melayani jalur alternatif itu, disiapkan 13 kapal penyeberangan, yakni delapan kapal melalui Pelabuhan Jangkar dan lima kapal melalui Pelabuhan Tanjungwangi.

Pengalihan ini dinilai mendesak karena proyeksi kendaraan kelas Vb yang melintas di Ketapang-Gilimanuk mencapai 1.000 unit per hari.

“Potensi peningkatan kendaraan ini perlu diantisipasi sejak awal. Karena itu, pemerintah menyiapkan alternatif layanan penyeberangan agar arus kendaraan tidak seluruhnya bertumpu di Ketapang-Gilimanuk,” imbuh Komang.

Selain armada, fasilitas pelabuhan juga akan dibenahi, mulai dari penerangan, toilet, hingga pemasangan CCTV.

“Kesiapan fasilitas harus dipastikan sebelum pelayanan dimulai. Kami juga akan berkoordinasi dengan seluruh pihak agar operasional pelabuhan berjalan lancar dan memberikan kenyamanan bagi pengguna jasa,” urainya.

Menariknya, dalam rapat muncul usulan agar tarif penyeberangan di pelabuhan alternatif digratiskan alias Rp 0 atau disubsidi 100 persen selama Nataru. Usulan ini diharapkan menarik minat masyarakat untuk beralih jalur.

Layanan alternatif direncanakan beroperasi pada 18 hingga 30 Desember 2026. Jadwal ini menyesuaikan kedatangan kapal pesiar di Pelabuhan Celukan Bawang pada 31 Desember 2026.

Pemkab Banyuwangi menyatakan dukungan penuh dan akan menyiapkan manajemen serta rekayasa lalu lintas di sekitar pelabuhan.

“Prinsipnya, kami mendukung langkah ini sebagai upaya mengurai kepadatan saat Nataru. Dishub Banyuwangi akan berkoordinasi dengan kepolisian, pengelola pelabuhan, dan instansi terkait untuk menyiapkan pengaturan lalu lintas,” pungkas Komang. (Kur).

Jurnalis Umum blok-a.com yang fokus di berbagai isu, seputar politik, hukum, kriminal, sosial, bencana, dan berbagai kegiatan masyarakat yang terjadi di Kabupaten Banyuwangi.