Kisah PSK Banyuwangi, Menyambung Hidup Bersama Buah Hati di Lokalisasi

CSS (42) seorang janda yang menjadi PSK di salah satu lokalisasi Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, bersama anaknya yang masih Bocil berusia 7 tahun, Minggu (21/5/2023).(blok-a.com/Kuryanto)

Banyuwangi, blok-a.com – Segala cara ditempuh seorang Ibu untuk menjaga dan merawat buah hatinya. Meski terkadang usahanya beresiko besar. Menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) salah satunya.

Seorang PSK Banyuwangi, SS (42) menceritakan kisah pilu merawat anak semata wayangnya HD (7), di salah satu wisma lokalisasi yang beralamat di Dusun Krajan Kulon, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, Banyuwangi.

Janda asal Desa Jebung Kidul, Kecamatan Telogosari, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur ini sudah sekitar 7 bulan hidup bersama anaknya di lokalisasi.

Hal tersebut terpaksa dia lakukan agar bisa menutup hutang-hutangnya, menghidupi dan menyekolahkan anaknya setelah ditinggal begitu saja oleh suaminya.

Baca Juga: Kisah Pemilik Sambal Bu Rudy, Sempat Luntang-Lantung saat G30S-PKI

“Saya tinggal di lokalisasi bersama anak saya. Bekerja melayani hidung belang sudah berjalan 7 bulan sejak di tinggal suami yang nikah lagi sama orang bali,” kata SS saat ditemui blok-a.com, Minggu (21/5/2023) sore.

SS mengakui, wanita manapun pasti tidak menginginkan bekerja menjadi PSK, apalagi mengajak serta anaknya tinggal di lingkungan tersebut. Namun, semuanya sudah terjadi dan tidak ada pilihan lain.

“Sebetulnya hati ini berontak, menangis dan menjerit. Tapi mau bagaimana lagi kalau sudah tidak ada pilihan,” keluh SS sambil meneteskan air mata.

Mencoba berpisah sementara dengan anaknya pun sudah pernah dia lakukan. SS sempat menitipkan sang anak ke saudaranya. Namun, hal itu tidak berlangsung lama.

“Sebetulnya dulu anak saya sudah tak bawa pulang ke Desa kelahiran saya dan saya titipkan ke saudara, tapi hanya bertahan 15 hari di sana. Disana anak saya sakit dan tidak mau jauh dari saya,” imbuh SS sambil menundukan kepala.

Saat ini SS mengaku pasrah dengan keadaan. Meski berat, jalan yang ia tempuh demi mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

“Tahun ajaran baru ini anak saya tak sekolahkan SD di Desa sini. Tiap sore anak saya juga berangkat ngaji di mushola sekitar lokalisasi ini,” terangnya.

Keinginan SS sederhana, mendapatkan pasangan hidup dan lepas dari belenggu dunia malam.

“Saya berharap bisa nemukan jodoh lagi, agar bisa menjalani hidup yang sewajarnya seperti wanita-wanita lainya. Kasihan anak saya,” pungkasnya.

Pemilik wisma atau yang biasanya disebut ‘germo’ emak – emak asal Dusun Mayang, Desa Kalisat, Kabupaten Jember, berinisial YK, membenarkan kalau SS adalah salah satu anak buahnya.

“SS bekerja sudah 7 bulan. Dia tinggal sekamar dengan anaknya. Dia bekerja di lokalisasi ini agar bisa bayar hutang dan menyekolahkan anaknya,” tandas YK.(kur/lio)