Banyuwangi, blok-a.com – Dalam upaya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, warga Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi kembali menggelar tradisi perayaan Endog-Endogan yang telah menjadi agenda rutin masyarakat selama hampir tiga dekade, Selasa (25/08/2026).
Tradisi ini tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi wadah mempererat kebersamaan dan semangat gotong royong antarwarga. Pawai Endog-Endogan dimulai pukul 06.30 WIB, dan berlangsung sekitar tiga jam hingga pukul 09.30 WIB.
Konsistensi masyarakat Kembiritan dalam menjaga tradisi selama tiga tahun terakhir, mendapat apresiasi dari Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Selain itu, tradisi Endog-Endogan Kembiritan juga telah masuk dalam kalender tahunan Banyuwangi Attractions.
“Kami mengapresiasi Pemdes dan seluruh masyarakat Kembiritan yang secara gotong royong terus menjaga tradisi ini hingga 28 tahun. Harapannya Endog-Endogan tetap lestari, tidak luntur oleh zaman, dan menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya kebersamaan,” ujar Bupati Ipuk saat hadir dalam perayaan tersebut.
Menurut Ipuk, Endog-Endogan bukan sekadar ajang kemeriahan dan kreativitas warga. Nilai sosial di dalamnya sejalan dengan semangat Maulid Nabi.
“Di tengah perkembangan teknologi dan gaya hidup yang semakin individualis, tradisi seperti Endog-Endogan dan kegiatan santunan anak yatim menunjukkan semangat guyub rukun warga masih kuat. Ini yang harus terus kita rawat,” sambungnya.
Ipuk menambahkan, pembangunan daerah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Partisipasi masyarakat menjadi kunci dalam menjaga tatanan sosial sekaligus mendukung program pembangunan.
“Peran pemerintah terbatas. Ketika masyarakat guyub, saling membantu dan peduli, banyak persoalan yang bisa kita selesaikan bersama,” imbuhnya.
Kepala Desa Kembiritan Sukamto menyampaikan, tradisi ini diwariskan leluhur sejak 28 tahun lalu. Awalnya, pawai kembang telur hanya dilakukan dengan berjalan kaki dan menggunakan becak roda tiga milik warga RT/RW.
Kini pelaksanaannya berkembang pesat. Tahun ini sedikitnya 1.500 peserta dari 19 kelompok kreasi budaya ikut ambil bagian. Pesertanya berasal dari lembaga pendidikan, yayasan, hingga komunitas masyarakat.
“Sekarang hampir semua unsur masyarakat Kembiritan terlibat. Ini bukti Endog-Endogan sudah menjadi milik bersama,” ungkap Sukamto.
Endog-Endogan menjadi salah satu kekayaan budaya Banyuwangi yang terus dirawat lintas generasi. Selain melestarikan tradisi, kegiatan ini juga menjadi ruang temu warga untuk memperkuat solidaritas dan semangat gotong royong. (Kur)






Media Sosial