Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, BPBD Banyuwangi Petakan 11 Kecamatan Risiko Tinggi Kekeringan

Ilustrasi: petani terdampak musim kemarau
Ilustrasi: petani terdampak musim kemarau

Banyuwangi, Blok-a.com – Musim kemarau dalam beberapa pekan terakhir sejak April 2026 mulai dirasakan oleh sejumlah wilayah di Kabupaten Banyuwangi. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan biasanya.

Sebanyak 11 kecamatan di Banyuwangi masuk dalam zona risiko tinggi kekeringan. Mengantisipasi terjadinya krisis air, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi mengambil langkah awal dengan melakukan pemetaan titik rawan kekeringan di seluruh wilayah.

“BPBD telah mengklasifikasikan wilayah terdampak ke dalam tiga klaster tingkat risiko kekeringan, di antaranya yaitu klaster tinggi, sedang hingga rendah. Untuk klaster tinggi risiko kekeringan terdapat 11 kecamatan, klaster sedang ada 4 kecamatan, sedangkan klaster rendah 10 kecamatan,” ungkap Kalaksa BPBD Banyuwangi, Partana saat dikonfirmasi, Senin (20/04/2026).

Pemetaan wilayah dengan risiko kekeringan adalah sebagai berikut:

  • Klaster Tinggi 11 Kecamatan: Wongsorejo, Blimbingsari, Singojuruh, Kabat, Gambiran, Siliragung, Muncar, Purwoharjo, Bangorejo, Pesanggaran, dan Tegaldlimo.
  • Klaster Sedang 4 Kecamatan: Glagah, Kalipuro, Giri, dan Cluring.
  • Klaster Rendah 10 Kecamatan: Banyuwangi, Rogojampi, Tegalsari, Srono, Songgon, Glenmore, Genteng, Licin, Kalibaru, dan Sempu.

Menurut Partana, pemetaan wilayah tersebut mengacu pada rekam jejak El Nino terparah yang pernah menghantam Banyuwangi pada tahun 2015 dan 2023 lalu.

“Wilayah klaster tinggi itu terbilang makin meluas tahun ini, karena bisa dibilang ketersediaan air semakin surut,” ujarnya.

Pemkab Banyuwangi melalui BPBD Banyuwangi terus melakukan upaya antisipasi dengan menggandeng sejumlah stakeholder. Karena pihaknya tidak bisa bekerja sendiri untuk mengatasi ancaman tersebut.

“Kita akan berkoordinasi dengan instansi lainnya untuk bersama-sama melakukan antisipasi ancaman kekeringan panjang atau ancaman kurangnya debit air,” pungkasnya. (kur/ova)