Banyuwangi, blok-a.com – Setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Banyuwangi, tradisi Endog-endogan selalu menjadi salah satu ritual yang dinanti-nanti oleh masyarakat.
Tradisi ini bukan hanya sekadar pawai telur hias, tetapi sarat akan nilai sejarah dan makna yang dalam.
Endog-endogan telah menjadi bagian dari budaya lokal Banyuwangi sejak awal abad ke-20 dan terus dipertahankan hingga hari ini.
Asal Usul Endog-Endogan
Kata “Endog-endogan” berasal dari bahasa Jawa, “endog” yang berarti telur. Tradisi ini awalnya dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada Nabi Muhammad SAW pada peringatan Maulid, yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal.
Warga Banyuwangi menghias telur dengan aneka warna cerah dan menempatkannya di dalam cenker, wadah berbentuk kerucut yang terbuat dari bambu dan dihiasi dengan daun kelapa serta berbagai ornamen lainnya.
Bersumber dari cerita rakyat Banyuwangi tradisi ini pertama kali diperkenalkan oleh KH. Abdullah Faqih dari Cemoro, Songgon, yang bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan di kalangan masyarakat muslim Banyuwangi.
Karena di setiap sisi Endog-Endogan ini ada nilai filosofis yang melambangkan ajaran Islam. Seperti telur yang terdiri dari tiga lapis menunjukkan lapisan spiritual, mulai dari iman, islam (syariat) dan ihsan.
Rangkaian Perayaan Endog-Endogan
Pada hari perayaan, warga berkumpul dan menghias telur-telur tersebut dengan bunga kertas berwarna-warni.
Telur hias ini kemudian ditancapkan pada pohon pisang yang juga dihias dan diarak keliling kampung menggunakan becak, sembari diiringi syair pujian kepada Nabi Muhammad yang diambil dari kitab Al-Barjanzi.
Tradisi ini juga dimeriahkan dengan musik tradisional dan salawat, menambah suasana sakral dan penuh kegembiraan.
Setelah prosesi arak-arakan, telur-telur tersebut dibagikan kepada warga sekitar sebagai simbol berkah dan kebersamaan.
Pembagian telur ini menggambarkan nilai gotong royong dan solidaritas, sesuai dengan semangat Pancasila, seperti yang disampaikan oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.
“Tradisi ini tidak hanya memperkuat nilai religius, tetapi juga mempererat keeratan sosial dan keguyuban di tengah masyarakat,” ujarnya.
Makna dan Filosofi Endog-Endogan
Endog-endogan memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar tradisi. Telur yang dihias berwarna-warni melambangkan kebajikan dan kebaikan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Selain itu, tradisi ini merupakan bentuk ekspresi kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap Nabi dan agama Islam. Dalam setiap langkah prosesi, terkandung nilai syukur atas berkah yang diberikan oleh Tuhan.
Menurut penulis buku Islam Blambangan, Ayung Notonegoro, tradisi Endog-endogan tercatat dalam sejarah sejak tahun 1930-an.
Hal ini diketahui melalui riset yang dilakukan Raden Sudira atas perintah peneliti Belanda, Theodoore Pigeaud.
Dalam manuskrip yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Indonesia, disebutkan bahwa perayaan Maulid Nabi di Banyuwangi disertai makanan ancak dan endog-endogan, sebagaimana yang kita kenal saat ini.
Melestarikan Budaya Endog-Endogan
Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Banyuwangi. Bahkan tahun ini merupakan untuk pertama kalinya pawai telur dimasukkan dalam rangkaian Festival Banyuwangi.
Karena tradisi Endog-endogan ini simbol kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur.
Dan juga tradisi ini adalah bentuk nyata kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, serta cerminan kebudayaan yang kaya akan nilai-nilai kebersamaan.
Sehingga tradisi Endog-endogan telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan religius masyarakat Banyuwangi, dan patut untuk terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang berharga.(mg3/)
Penulis: Zulkaria Irawan (Mahasiswa Magang Kampus STIMATA Malang)
Baca juga
Peringatan Maulid Nabi, 50 Ribu Telur Meriahkan Festival Endhog-Endhogan di Banyuwangi
5 Tradisi Maulid Nabi di Jawa Timur: Merayakan Kelahiran Nabi dengan Kearifan
Pasca Maulid Nabi, Harga Telur Ras di Banyuwangi Bertahan Rp28 Ribu per Kilo






Media Sosial