Diduga Sebabkan Gas Elpiji Melon Langka, Jawara Desak Polisi Selidiki Usaha Bandar Ayam Probolinggo 

elpiji melon
Ilustrasi. (Kompas.com)

Probolinggo, blok-a.com – Usaha rumah potong ayam “Bandar Ayam” memakai elpiji subsidi di Dusun Asem Kandang, Desa Asembagus, memantik reaksi Gus Joy, Ketua Jaringan Aktivis Wakil Masyarakat (Jawara).

Dia mengaitkan penggunaan elpiji itu dengan kelangkaan gas melon yang belakangan terjadi di wilayah Kabupaten Probolinggo.

“Saya kira Pak Kapolres segera menindaklanjuti. Saat ini masyarakat mulai kebingungan cari elpiji subsidi,” ujarnya sesuai jawaban via WhatsApp Grup (WAG) Probolinggo, Minggu, (14/4/2024).

“Banyak agen tidak resmi di desa, sehingga penjualannya tinggi. Seminggu ini harga eceran sudah Rp20 ribu. Tolong Pak Polisi segera menindak. Agar ada efek jera,” ujarnya.

Jangan sampai kasus ini seperti pupuk sehingga banyak yang dirugikan, petani kecil dan masyarakat kecil jadi korban.

“Bayangkan jika harga mahal dan sulit cari, bagaimana susahnya masyarakat kecil,” tukasnya lagi.

Dia berharap agar Kapolres Probolinggo bisa merespon keluhan masyarakat terkait gas elpiji melon.

“Selain langka, harga juga naik. Ini harus diusut kenapa terjadi kelangkaan. Jangan sampai rakyat demo,” ujarnya.

Sebelumnya, karyawan usaha potong ayam di Dusun Asem Kandang, Desa Asembagus, mengakui tempat usahanya memakai elpiji melon (subsidi).

Namun saat dikonfirmasi, bos usaha potong ayam, DD, yang juga warga setempat mengelak.

Dia berdalih, penggunaan gas elpiji itu sementara karena stok gas yang nonsubsidi kosong.

Yang jelas, kata dia, gas elpiji yang langka itu yang nonsubsidi bukan seperti pernyataan Ketua Jawara Gus Joy.

Di sisi lain, masyarakat mendesak ketegasan aparat terkait penertiban penggunaan gas subsidi elpiji tiga kilogram-an sesuai Perpres nomor 104 tahun 2007, Perpres nomor 38 tahun 2019, dan Kepmen ESDM No. 37.K/MG.01/MEM.M/2023 tentang penggunaan gas elpiji 3 kg.(rid/kim)