Proyek Kuliner Jalan Kartini, Pemkab Jember Stop Alat Berat Saat Jadwal Ibadah Gereja

Penutupan sementara ruas jalan imbas proyek pembangunan jalan di kawasan food street Jember (foto: Ist)
Penutupan sementara ruas jalan imbas proyek pembangunan jalan di kawasan food street Jember (foto: Ist)

JemberBlok-a.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menjamin proyek pembangunan street food di Jalan Kartini tidak akan mengganggu kegiatan ibadah warga sekitar. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk toleransi sekaligus menjaga kondusivitas lingkungan selama proses konstruksi berlangsung.

Plt. Kepala Dinas PUPR Jember, Arif Liyantono, menegaskan pada Jumat (10/04/2026) bahwa pengerjaan fisik di Jalan Kartini memiliki manajemen waktu yang ketat. Seluruh operasional alat berat akan dihentikan sepenuhnya saat ada jadwal peribadatan di gereja setempat.

“Prioritas kami adalah pembangunan yang menghormati aktivitas keagamaan,” ungkapnya.

Untuk menjaga agar proyek tetap selesai sesuai target meskipun sering berhenti saat jam ibadah, Dinas PUPR menggunakan sistem kerja dua shift.

Langkah ini diambil agar volume pengerjaan harian tetap terpenuhi. Selain itu, pengawas lapangan rutin berkonsultasi dengan pengurus gereja setiap minggu untuk menyinkronkan jadwal kerja dengan jadwal ibadah.

Proyek revitalisasi ini bertujuan untuk menciptakan kawasan kuliner yang tertata rapi bagi warga Jember. Jalan Kartini diharapkan menjadi pusat daya tarik ekonomi baru yang nyaman bagi pedagang dan pembeli.

Menurut Arif, penataan ini adalah upaya pemberdayaan ekonomi lokal agar kuliner Jember lebih dikenal luas oleh wisatawan dalam suasana yang lebih representatif.

Hingga saat ini, progres pembangunan terus dipantau secara berkala oleh tim teknis. Fokus pengawasan meliputi kualitas material dan ketepatan desain hingga tahap finishing.

Pemkab Jember optimis bahwa dengan koordinasi yang intensif antara pihak konstruksi dan tokoh agama setempat, proyek pusat kuliner ini akan sukses secara fisik tanpa mencederai kerukunan sosial di kawasan Kepatihan. (rio/ova)