Gempa megathrust mengacam Nusantara, termasuk wilayah Jawa Timur dan sekitarnya. Sebagai langkah antisipasi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi melakukan pelatihan tanggap darurat.
Seperti diketahui, gempa megathrust adalah jenis gempa bumi yang terjadi di zona subduksi, tempat di mana dua lempeng tektonik bertemu. “Mega” dalam istilah ini mengacu pada skala besar, sementara “thrust” berarti dorongan atau tekanan, yang menggambarkan sesar naik besar yang terbentuk di antarmuka lempeng tektonik.
Zona megathrust terbentuk ketika satu lempeng samudra menukik di bawah lempeng benua atau lempeng lainnya, dan gesekan antara kedua lempeng ini mengakibatkan terjadinya akumulasi energi seismik yang sangat besar.
Menurut Dr. Gayatri Indah Marliyani, pakar gempa bumi dari Teknik Geologi UGM, gempa megathrust terjadi ketika lempeng-lempeng ini terkunci akibat gesekan, mengakumulasi energi yang pada akhirnya dilepaskan sebagai gempa bumi besar.
Gempa ini tidak hanya menyebabkan guncangan yang hebat tetapi juga sering kali memicu tsunami yang dahsyat, terutama karena pergeseran lempeng dapat mengganggu dasar laut.
Selain itu, sesar megathrust tidak hanya ditemukan di zona subduksi antara lempeng benua dan samudra, tetapi juga bisa terjadi di zona tumbukan antara dua lempeng benua, seperti di Himalaya.
Gempa Megathrust Mengancam Indonesia
Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap gempa megathrust di dunia, karena letaknya yang berada di sepanjang Cincin Api Pasifik. Zona megathrust di Indonesia dibagi menjadi beberapa segmen utama yaitu.
- Subduksi Sunda: Mencakup Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba.
- Subduksi Banda: Mencakup daerah di sekitar Maluku dan Nusa Tenggara.
- Subduksi Lempeng Laut Filipina dan Laut Maluku: Mencakup wilayah di sekitar Sulawesi dan utara Papua.
Peta zona megathrust di Indonesia menunjukkan adanya tiga segmen utama yang memiliki potensi gempa besar di sepanjang subduksi Sunda:
- Segmen Banten-Selat Sunda: Potensi magnitudo mencapai 8.7
- Segmen Jawa Tengah-Jawa Barat: Potensi magnitudo mencapai 8.7
- Segmen Jawa Timur: Potensi magnitudo mencapai 8.7
Sejumlah pakar, termasuk dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), telah memperingatkan bahwa gempa di zona-zona ini hanya masalah waktu.
Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Indonesia menghadapi ancaman gempa megathrust yang sangat serius, khususnya di wilayah Sumatera dan Jawa, yang sudah lama tidak mengalami gempa besar, menciptakan apa yang dikenal sebagai seismic gap.
Seismic gap ini menunjukkan bahwa energi seismik yang terakumulasi belum dilepaskan dalam waktu yang lama, sehingga potensi untuk terjadinya gempa besar semakin meningkat.
Pernyataan ini didukung oleh data dari berbagai penelitian seismologi yang menunjukkan bahwa segmen-segmen megathrust di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sudah melewati siklus gempa besar mereka.
Kepala Pusat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengungkapkan, “Gempa megathrust bisa terjadi besok, lusa atau 200 tahun lagi.”

Antisipasi Pemerintah
Potensi fenomena ini pada dasarnya bukanlah isu yang baru. Namun, kepala BMKG ingin terus memperingatkan kepada semua kalangan agar segera memulai mitigasi bencana.
“Sebetulnya isu megathrust itu bukan isu yang baru. Itu isu yg sudah sangat lama. Tapi kenapa BMKG dan beberapa pakar mengingatkan? Tujuannya adalah untuk ‘ayo, tidak hanya ngomong aja, segera mitigasi (tindakan mengurangi dampak bencana, red),” ujar Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG, Jakarta, Rabu (21/8).
Dalam menghadapi ancaman ini, pemerintah Indonesia melalui berbagai lembaga telah meningkatkan langkah-langkah mitigasi. Termasuk pemasangan sensor-sensor peringatan dini tsunami (InaTEWS) di sepanjang zona-zona megathrust.
Namun, tantangan utama adalah memastikan bahwa masyarakat memahami risiko ini dan mempersiapkan diri dengan baik. Melalui pendidikan bencana dan latihan evakuasi yang rutin.
Di tingkat lokal, pemerintah daerah didorong untuk menyisipkan informasi tentang potensi gempa megathrust ke dalam kebijakan tata ruang dan pembangunan infrastruktur.
Hal ini penting agar pembangunan di daerah-daerah rawan gempa bisa meminimalkan risiko kerusakan dan korban jiwa. Misalnya, dalam desain bangunan, penting untuk memperhatikan standar tahan gempa dan menyediakan jalur evakuasi yang jelas dan aman.
Banyuwangi Masuk Zona Terancam Gempa Megathrust
Banyuwangi, khususnya di wilayah selatan, merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terancam oleh gempa megathrust. Hal ini disebabkan oleh lokasinya yang berdekatan dengan zona subduksi di selatan Pulau Jawa.
Wilayah ini pernah mengalami tsunami besar pada tahun 1994 akibat gempa megathrust bermagnitudo 7,2 yang menghantam pesisir selatan Jawa, dikenal dengan sebutan Tsunami Pancer. Ribuan warga menjadi korban, dengan banyak yang meninggal, luka-luka, atau hilang.
Dampak dari gempa megathrust tidak hanya berupa kerusakan fisik, tetapi juga trauma psikologis bagi masyarakat. Kerusakan infrastruktur, kehilangan nyawa, dan trauma yang dialami oleh warga adalah beberapa konsekuensi dari bencana ini.
Untuk mengantisipasi terjadinya bencana serupa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi telah melakukan berbagai langkah mitigasi.
Ini termasuk apel siaga dan pelatihan tanggap darurat di lapangan Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Selasa (27/8).
Latihan bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang potensi bencana. Juga memberikan pemahaman tentang tindakan yang harus diambil saat bencana terjadi.
Misalnya, dengan segera mencari tempat yang lebih tinggi dan aman jika mendengar sirine peringatan tsunami.
Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi, Danang Hartanto, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi potensi bencana tsunami.
“Potensi terjadinya Tsunami di Indonesia, khususnya di Banyuwangi itu cukup besar,” kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Banyuwangi, Danang Hartanto.
“Jika sirine berbunyi, masyarakat harus segera mencari tempat yang lebih tinggi dan aman,” katanya.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan jika gempa megathrust dan tsunami melanda Banyuwangi. (mg3/gni)
Penulis: Zulkaria (Mahasiswa Magang STMIK PPKIA Pradnya Paramita/STIMATA Malang)






Media Sosial